Delivering Happiness

Monday, November 27, 2023

Untuk Kamu yang Aku Yakin Kamu Membaca Ini



Aku menuliskan blog ini untuk satu orang yang sangat aku yakin dia akan membacanya. Walau aku sendiri tidak tau kapan tepatnya perempuan ayu itu akan membacanya. Sebagai catatan, aku menulis ini dengan penuh emosi. Namun dengan segala rasa hormat untuk pembaca lainnya, aku mencoba untuk sedikit mengatur emosiku.


Pertama, mari aku mulai dengan satu pertanyaan simple, “Kenapa kamu membenciku sebegitunya?” Entah apa yang suamimu ceritakan tentangku dan kau ceritakan kembali ke orang tuamu, adikmu, dan teman-temanmu, hanya pertanyaan itu yang selalu ingin aku tanyakan. Entah dosa atau salah apa ketika aku mengenal suamimu terlebih dahulu sebagai teman, tidak lebih walau dia sangat ingin tidur dengan ku, namun ku tekankan, aku tidak pernah tidur dengan dia sebelum dia mengenalmu atau sesudahnya. Aku tidak perlu menjelaskan ini lebih panjang. Kau bisa bertanya langsung dengan suamimu kapan saja :)

Kedua, suamimu, yang waktu itu dia adalah seorang temanku, mungkin dia berpikir kami sangat dekat, percayalah, ada laki-laki lain yang aku jaga. Tidak perlu aku sebutkan disini karena aku tau kamu tidak akan tau siapa dia. Tapi dia juga seorang dokter yang sangat membantuku ketika pandemi Covid. Sama seperti pasanganku sekarang, aku menjaga mereka sebagaimana mestinya. Mungkin, kau juga tau kalau aku tidak suka mengumbar tentang pasanganku di sosial media. Pun jika iya, aku akan membicarakannya di tempat tersepi dimana mungkin hanya beberapa orang yang mengetahuinya. Termasuk blog ini.

Ketiga, jika kamu ingin tau seberapa dekat aku dan suamimu waktu kita berteman, bisa ku bilang kami memang sangat dekat. Untuk hal-hal yang ingin dia lakukan di Jakarta, kadang ada masa dia sangat cranky agar aku ikut bersama dia. Tapi, Mbak, aku sering menolaknya karena kembali ke nomor dua. Ada orang lain yang sebenarnya sangat aku banggakan. Waktu itu aku ingat, suamimu sangat overprotective. Handphone-ku harus ada Face ID dia. Google-ku harus terkoneksi dengan dia agar dia tau aku kemana saja.

Keempat, kalau kamu bertanya kenapa akhirnya aku jatuh dengan suamimu, itu karena ada masa kosong dimana aku pergi meninggalkan hidupku di Jakarta. Tepatnya November 2021. Aku lari, Mbak. Aku hancur tapi bukan karena suamimu tapi orang dibagian kedua. Disitu, suamimu yang tentu saja mungkin kalian belum saling kenal, masih melibatkanku dengan setiap keputusan dihidupnya. Termasuk, ikut berhenti kerja di perusahaan kami. Bahkan, dia mengirimkan rekaman pembicaraannya ke aku ketika dia ingin berhenti. Banyak hal manis yang dia lakukan ketika kami berjauhan. Disaat itu, aku jatuh berkali-kali ke dia. Setiap aku ke Jakarta, orang pertama yang aku infokan adalah dia. Tas backpack berwarna navy yang selalu dia bawa kemana saja bersamamu, kami beli di KKV. Aku yang pilihkan… awalnya dia ingin warna hitam but he is blue. Warna suamimu biru. Tidak bisa diganggu gugat karena dia memang sangat suka biru :)

Kelima, mungkin suamimu lupa tapi aku ingat bagaimana sebenarnya aku mengenalmu. 24 Maret 2022. Aku ingat tanggal itu karena aku ada acara shooting kantor dan kantorku dekat dengan kosannya. Aku mampir hanya untuk mengisi energi. Kau tau? Hugging him at that time is my energy charger. Aku ulang tahun ditanggal 22 Maret, dari semua hadiah yang dia tawarkan, aku cuma minta satu: tempered glass. Barang yang bisa aku beli sendiri tapi aku ingat waktu itu handphone dia (dan aku) pelindungnya sudah jelek. Tapi mari balik ke bagian awal bagaimana aku mengenalmu. Kamu tau kalau handphone kita sama, kan? Kalau kamu juga mau tau, pattern dan passcode kita sama. Ya walau passcode karena tanggal lahir dan jelas tanggal lahir kami berbeda. WhatsApp-mu masuk. Aku baca pop-up notifikasinya namun tidak aku buka. Namun aku tanya, “Mas, ada yang chat kamu.” Kamu tau dia jawab apa? “Wes biarin. Itu temannya Hanny.” Aku percaya. Jelas aku harus percaya. Waktu itu hubungan kami tidak jelas. Bahkan waktu itu, aku ingat aku buka Bumblee dia. Memilih pasangan yang menurutku cocok untuk dia. Aku memang tidak berekspektasi apapun tentang kami. Tapi, Mbak, satu yang aku ingat dari hari itu, aku menolak dia. Aku terang-terangan menolaknya dan bilang, “Aku cuma pengen dipeluk kamu.” Suamimu pasti ingat karena dia selalu bilang, “Kalo capek, datang aja buat peluk.”. Manis ya, Mbak.

Mbak, itu pertemuanku terakhir dengan dia. Aku selalu rindu dia, tapi rinduku akan hilang ketika aku sudah memberitahu dia kalau aku rindu. Sama… seperti… aku… rindu… orang… lain. Kami punya teman namanya Anthony, salah satu orang baik yang akupun beruntung mengenalnya. Kau tau? Anthony salah satu orang yang selalu aku bilang kangen. Maaf kalau dimatamu aku sedikit murahan. I speak what I feel, and this is one of the reasons why I write all of this.

Mbak, ketika suamimu bilang kamu ingin kenal aku, aku senang sekali. Aku juga ingin berteman. Bercerita. Mari berbagi. Jika kau berpikir yang aneh-aneh, percayalah, setelah aku tau suamimu memilikimu, aku pun memiliki orang lain. Cerita suamimu dan aku sebatas cerita dua orang yang lelah bekerja lalu saling mengasihi. Tidak lebih. Tapi, aku tidak pernah tau, apa yang dia ceritakan tentangku ke kamu. Apa alasan kamu membenciku. Melihatku dari sana sini lalu block sosial mediaku. Entah kamu tetap ingin terlihat manis dengan membiarkan akun utamamu tidak menyentuhku tapi yang kamu lalukan hina. Pengecut yang bersembunyi dikata-kata “Only good things” dan jas putih palsumu. Kamu sakit, Mbak. Kamu berobat bukan kamu yamg mengobati. Maaf, but I mean it.

Hal terberat yang aku lakukan dengan segala amarahku saat ini, aku hanya bisa menuliskan tulisan ini. Aku memberitahu suamimu tingkahmu yang lucunya suamimu sendiri tidak tau nama-nama akun yang aku sebutkan. Lucu. Entah apa yang kau takutkan… entah apa yang kau risaukan. Aku, Ferra, meminta dengan sangat penuh hormat atas nama suamimu yang sangat aku hargai dan dirimu sendiri (percayalah, aku menghargaimu jadi tolong hargai dirimu juga) tolong untuk tidak memasukkan aku ke drama hidupmu. Tolong untuk tidak bercerita hal buruk dan mulai melihat orang dari sisi lainnya. Sudahi cerita buruk tentangku ke adik dan teman-temanmu itu, Mbak. Aku tahu kenapa kau berpikir jahat tentangku karena kalian berjauhan tapi percaya sekali lagi. Walau kami sama-sama di Jakarta, aku tidak akan pernah menyentuh dia, suamimu.

Satu hal yang aku juga ingin meminta tolong… jaga marwah suamimu layaknya aku menjaga marwah pasanganku. Aku tau betapa panjang perjalanan dia hingga kamu berhasil menikmatinya dan aku minta untuk tidak merusaknya. Hal terberat lainnya yang aku lakukan hari ini, suamimu yang juga orang yang aku hormati, aku memanggilnya “lo-gue.” Tidak pernah sekalipun dalam cerita kami aku melakukan hal itu. Jadi aku minta tolong untuk manusiakan dirimu dan suamimu :)

Maaf jika ada kata-kata kasar yang keluar. Maaf juga jika memang ada hal yang membuatmu begitu benci ke aku. Katakan. Kamu tau nomorku. Kamu tau dimana kamu bisa menemuiku. Untuk hal baik lainnya, semoga kita semua disehatkan baik bathin dan raga agar bisa mengetahui segala sisi dari cerita orang. Salam sayang, Fera K.

Untuk blog-ku yang manis ini, maafkan Ibu bercerita tentang drama ini di kami. Ibu resah dan takut tapi Ibu bisa menulis maka Ibu akan terus menulis untuk berbicara. x

No comments:

Post a Comment

Rainbow