Tulisan ini dibuat tepat 2 hari setelah Rafah diserang Israel. Namun dalam tulisan ini aku akan menceritakan tentang Bapakku serta budaya kami ketika lebaran di Belitung.
Seperti yang kita semua ketahui, sejak penyerangan Israel ke Palestina pada bukan Oktober tahun lalu, gaungan untuk boykot produk yang menyokong Israel semakin kencang.
Aku termasuk salah satu orang yang kencang membicarakan soal boykot ini. Namun, satu hal yang ingin aku ceritakan.
Walau aku melakukan boykot, aku tidak pernah mengajak orang disekitarku untuk melakukan hal yang sama. Menurutku, tidak semua orang bisa. Termasuk, Bapakku. Beliau sudah berumur 50 tahun tapi orang tua tetap orang tua. Aku menghormati Beliau layaknya anak dan Bapak.
Lebaran kemarin, sama seperti lebaran yang sebelum-sebelumnya. Keluarga kami selalu sibuk mempersiapkan ini itu untuk disuguhkan. Namun, waktu itu, aku ingat sekali Bapakku bertanya kepadaku, “Ingin beli minuman apa, Kak?” Aku jawab, “Apapun asal jangan Coca Cola.” Lalu aku jelaskan ke Bapak kenapa aku tidak ingin ada Coca Cola. Namun, aku kembalikan ke Beliau. Apapun, asal Bapakku senang dan aku hanya cukup bertahan dengan pendirianku.
Aku tidak tahu bagaimana lebaran di kampung orang, namun di kampung kami, Coca Cola dan minuman manis lainnya mengambil peran penting. Seperti tidak bisa dilepaskan. Mungkin hukumnya sama wajibnya seperti lebaran dan ketupat.
Mendengar aku menjawab seperti itu, Bapak langsung bilang, “Bapak kepengennya itu, Kak.” Dengan nada seperti orang yang benar-benar merindukan rasa Coca Cola. Sedikit cerita, Bapak memang aku larang keras minum minuman manis. Bukan hanya Coca Cola. Namun tahun-tahun sebelumnya, lebaran seperti “cheating day” beliau. Dia bebas ingin minum apapun ketika lebaran dan kami tidak pernah melarangnya. Seperti membiarkan Beliau untuk merayakan lebaran karena sudah berpuasa.
Singkat cerita, beberapa hari kemudian Bapak membeli berbagai macam minuman manis. Aku tidak berharap Beliau mendengarkanku. Tapi aku kaget karena Beliau memang tidak membeli produk Coca Cola. Tidak satu botolpun.
Lantas aku berpikir…
Bagaimana mungkin seorang Bapak yang sangat keras kepalanya mendengarkan anaknya?
Bagaimana mungkin “tradisi” Coca Cola dan lebaran selama berpuluh tahun kami jalankan dipatahkan begitu saja oleh Bapak?
Lantas aku juga berpikir… aku tahu betul bagaimana kerasnya watak Bapak. Aku hafal betul apa kurangnya Beliau.
Tapi, ketika Bapakku bisa… aku yakin orang lain bisa. Sangat yakin.
Rispek paling kencang untuk Bapak Ferry, Bapak kesayangannya Ferra.
